Innalillahi... Dinda, Teman Baru, Kesan Singkat
Saya baru mengenal Dinda sekitar dua bulan. Kami sama-sama baru menjadi siswa di SMP Negeri 1 Cisayong. Dinda berada di kelas 7G. Waktu dua bulan tentu belum cukup untuk mengenal seseorang secara mendalam, tetapi cukup untuk meninggalkan kesan.
Dinda dikenal sebagai anak yang baik dan pintar. Teman-temannya bahkan memperkirakan ia akan menjadi salah satu siswa dengan nilai terbaik di kelasnya. Masa SMP-nya baru dimulai. Masih banyak pelajaran, kegiatan, pertemanan, dan pengalaman baru yang seharusnya bisa dijalani bersama.
Hari Jumat, saya masih melihat Dinda. Kami masih sempat saling melambaikan tangan, dadah-dadah seperti biasa. Saat itu tentu tidak ada pikiran bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir.
Minggu, 27 September 2026, kabar tentang Dinda datang begitu cepat. Ia meninggal dunia setelah sebelumnya pergi menggunakan sepeda motor untuk mengantar temannya pulang.
Saya memang baru mengenalnya dua bulan. Tetapi kabar itu tetap membuat saya berpikir tentang banyak hal.
Ternyata kita memang tidak pernah tahu berapa lama seseorang akan hadir dalam kehidupan kita. Ada orang yang menemani kita bertahun-tahun, ada pula yang hanya sebentar. Soal umur, manusia tidak pernah tahu. Allah yang mengaturnya.
Namun, dari kejadian ini juga ada pelajaran penting untuk kami yang masih seusia SMP.
Kadang-kadang anak SMP merasa sudah cukup besar untuk membawa sepeda motor. Bisa mengendarainya memang terasa menyenangkan. Bisa pergi sendiri juga terasa lebih bebas. Tetapi bisa mengendarai motor belum tentu berarti sudah siap berkendara di jalan raya.
Ada alasan mengapa seseorang harus mencapai usia tertentu untuk memiliki SIM. Jalan raya bukan hanya soal bisa menjalankan motor. Ada kendaraan lain, kecepatan, kondisi jalan, aturan lalu lintas, serta keputusan-keputusan yang terkadang harus dibuat hanya dalam beberapa detik.
Karena itu, kami yang masih SMP sebenarnya tidak perlu terburu-buru ingin membawa motor sendiri. Nanti akan ada waktunya. Saat umur sudah cukup, sudah memenuhi aturan, sudah memiliki SIM, dan sudah benar-benar siap bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri maupun orang lain.
Kejadian yang dialami Dinda bukan untuk membuat kita sibuk mencari siapa yang salah. Lebih baik menjadikannya pengingat. Bagi anak-anak, supaya lebih berhati-hati. Bagi orang tua, supaya lebih memperhatikan keselamatan anak-anaknya.
Saya mungkin hanya mengenal Dinda selama dua bulan. Tidak lama.
Tetapi kadang-kadang panjang pendeknya pertemanan bukan ukuran apakah seseorang akan kita ingat atau tidak.
Hari Jumat, Dinda masih melambaikan tangan.
Sekarang, namanya menjadi salah satu cerita dari masa awal saya bersekolah di SMP Negeri 1 Cisayong.
Selamat jalan, Dinda.
Semoga Allah menerima semua kebaikanmu dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan semoga kami yang masih melanjutkan perjalanan bisa mengambil satu pelajaran sederhana: menikmati masa muda itu penting, tetapi menjaga keselamatan jauh lebih penting.